Imam Utusan Allah
Seorang akhwat, yang dulunya senang bersolek diri untuk diperlihatkan ke para ikhwan disekitarnya. Dalam hidupnya, dia berusaha mencari keberadaan jodohnya, yang dianggap dialah Imam untuknya dan anaknya kelak. Dalam urusan asmaranya, ikhwan yang dekat dengannya hanya bertahan beberapa waktu, hingga akhirnya dia mulai putus asa dan beranggapan jodohnya begitu jauh untuk didapat.
Sampai suatu hari, akhwat tersebut menceritakan keluh kesahnya pada sahabatnya. Sahabatnya berkata “ Laki-laki yang baik hanya diperuntukan untuk wanita yang baik pula”, apa kamu sudah menjadi akhwat yang baik untuk dirimu sendiri maupun untuk orang lain?.
Dari perkataan sahabatnya, akhwat tersebut mulai mengoreksi diri, apa saya sudah pantas mendapat imam yang saya idamkan, sedangkan saya seperti ini?
Dalam sujudnya, dia memohon maaf kepada sang pemilik hidup, akhwat tersebut belum menjadi wanita muslimah sejati.
Sampai suatu waktu, akhwat tersebut mulai sadar kalau paras yang dia miliki saat ini akan lebih berharga apabila ditutupi. Tanpa paksaan, akhwat tersebut mulai berhijab. Seperti sebuah proses, untuk mencapai keberhasilan dibutuhkan iktiar, tawakal dan doa untuk menjadi muslimah sejati.
Akhwat tersebut sudah tidak menitik beratkan kriteria ikhwan yang dia harapkan. Akhwat tersebut menanamkan dalam dirinya, apabila bagi Allah aku sudah menjadi wanita yang baik, tentunya aku akan mendapatkan ikwan yang baik pula seperti janji Allah dalam surat An. Nur ayat 26.
Suatu hari, akwat tersebut bertemu dengan seorang ikhwan, ikhwan tersebut seorang yang pendiam, dia juga taat beribadah. Karena kekagumannya pada ikhwan tersebut, akhwat ini selalu berdoa supaya ikhwan tersebut adalah imam yang disiapkan Allah. Akan tetapi, belum ada jawaban dari doanya. Sampai akhwat tersebut mendengar kabar kalau ikhwan yang selama ini dikagumi telah menikah beberapa waktu lalu.Terlihat kekecewaan dalam raut wajahnya.
Hari demi hari berlalu, ada seorang ikhwan datang kerumahnya untuk berta’aruf dengannya, Akhwat tersebut menerima ta’aruf tersebut. 6 bulan berlalu, tanpa kabar ikhwan tersebut menghilang, tanpa putus asa akhwat tersebut menunggu dan selalu memohon pada yang Kuasa agar ikhwan tersebut kembali untuk menghitbahnya. Singkat cerita, 1 tahun sudah dia menunggu ikhwan tersebut, sudah terlalu sering dia menolak ikhwan lain yang ingin berta’aruf dengannya karena kesetiaannya terhadap ikhwan tersebut.
Sampai suatu saat, orang tuanya meminta akhwat tersebut menerima ikhwan lain yang ingin berta’aruf dengannya. Setelah proses ta’aruf yang dijalani, ikhwan tersebut menghitbah akhwat tersebut.
Tak ada yang tau takdir Allah, setelah akhwat tersebut dihitbah, ikhwan yang dulu dinantinya datang kembali untuk menikahinya. Tanpa sebab yang jelas, ikhwan tersebut datang, akhwat tersebut dilema dengan kondisinya yang sekarang haram didekati ikhwan lain akan tetapi akhwat tersebut masih menyimpan perasaan terhadap ikhwan tersebut.
Dengan sujud dan tawakalnya pada Allah, akhwat tersebut meminta ikhwan yang menghitbahnya untuk segera menikahinya. Akhwat tersebut tak ingin berdosa karena perasaannya. Lambat laun, akhwat tersebut mencintai suaminya dan disinilah dia merasakan janji dari Sang Pemilik Hidup bahwa hanya Akhwat. baik-baik yang akan mendapatkan ikhwan yang baik pula.
The end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar